RAKYATKU.COM - Malam terakhir Ramadan tentunya hambar tanpa adanya takbiran. Di Indonesia, takbiran biasanya dilakukan dengan melakukan pawai.
Andai Lebaran tak ada takbiran, bagaimanakah kiranya? Mungkin terasa hambar. Lebaran dan takbiran ibarat dua sisi mata uang yang sama. Keduanya seolah tak dapat dipisahkan.
Ada yang beranggapan takbir adalah bentuk syukur bahwa esok hari kemenangan. Ada juga yang menilai tradisi itu dulunya dari rumah ke rumah, tapi sekarang cukup didengungkan di Masjid.
Dikutip dari CNN Indonesia, KH Maman Imanul Haq, Ketua Lembaga Dakwah PBNU, mengatakan, takbir diucapkan sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.
"Ada anjuran syiar, bahwa pada malam Idul Fitri, dari mulai ditentukan masuk 1 Syawal sampai Imam Idul Fitri naik, kita dianjurkan bertakbir, baik di masjid, bersama keluarga, atau acara takbir keliling," ungkapnya.
Takbir, lanjutnya, di satu sisi menunjukkan kemenangan, selain itu juga pengakuan bahwa yang maha agung itu Allah SWT. Kekuasaan atau kekayaan yang dimiliki, serta saudara yang banyak itu tidak ada apa-apanya, karena yang Maha Agung dan abadi hanya Allah SWT.
Sehingga menurut tidak semestinya malam takbiran justru membuat keresahan di tengah masyarakat.
"Jadi sangat tidak elok, jika takbiran dilakukan sampai harus menakuti orang lain, atau tidak disiplin dalam berlalu-lintas," ujarnya.
KH Maman berpesan agar takbiran tidak sampai mengganggu atau membuat orang lain ketakutan.
"Takbir haruslah menumbuhkan sikap mengagungkan Allah dan kerendahhatian," ujarnya.
Dengan begitu, takbir yang dilakukan akan menjadi takbir yang penuh makna.