RAKYATKU.COM - Seorang wanita hamil di Palestina tewas bersama bayinya yang berusia satu tahun akibat serangan udara Israel di Jalur Gaza.
Pemboman terjadi pada hari Sabtu terjadi setelah Hamas dan gerakan Jihad Islam menembakkan lebih dari 200 roket ke kota-kota dan desa-desa di Israel selatan.
Ibtessam Abu Arar, bibi bayi berusia 14 bulan yang meninggal dalam serangan Israel mengatakan: "Pesawat Israel menembakkan rudal di dekat rumah dan pecahan peluru memasuki rumah dan mengenai bayi yang malang."
Ibu anak itu, Falestine Abu Arar, 37 tahun, meninggal karena luka-lukanya beberapa jam kemudian.
Selain ibu dan anak itu, seorang pria berusia 22 tahun Emad juga kehilangan nyawa akibat serangan itu. Kementerian kesehatan Gaza mengatakan, 13 lainnya juga terluka.
Sementara itu pecahan peluru dari roket Gaza melukai dua orang Israel, salah satunya adalah wanita berusia 80 tahun.
Saling serang dimulai pada hari Jumat ketika seorang penembak jitu Jihad Islam menembak pasukan Israel di seberang perbatasan, melukai dua orang.
Penembakan itu kemudian dibalas dengan serangan udara dari Israel, yang menewaskan dua pejuang dari Hamas.
Dua warga Palestina lainnya yang melakukan protes di dekat perbatasan juga dibunuh oleh pasukan Israel.
Hamas dan Jihad Islam merespons dengan tembakan roket pada hari Sabtu.
Pasukan Israel membalas lagi dengan serangan udara dan tembakan tank terhadap lebih dari 30 target milik kedua kelompok itu.
Dalam sebuah pernyataan, kedua kelompok itu menjanjikan respons "yang lebih luas dan lebih menyakitkan jika Israel meningkatkan agresi."
Pada Sabtu malam, Uni Eropa menyerukan de-eskalasi segera dan melemparkan dukungan atas upaya Mesir dan PBB untuk menenangkan situasi.
"Penembakan roket dari Gaza ke Israel harus segera dihentikan. De eskalasi situasi berbahaya ini sangat diperlukan untuk memastikan bahwa kehidupan warga sipil dilindungi," kata Maja Kocijancic, juru bicara Uni Eropa.
"Orang Israel dan Palestina sama-sama memiliki hak untuk hidup dalam kedamaian, keamanan, dan harga diri," tambahnya.