Minggu, 04 Februari 2018 11:56

Ini Sederet Prestasi Guru Bergaji Rp400 Ribu yang Tewas di Tangan Murid

Alief Sappewali
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Ahmad Budi Cahyono semasa hidup.
Ahmad Budi Cahyono semasa hidup.

Banyak kenangan indah bersama Ahmad Budi Cahyono. Walau hanya digaji Rp400 ribu per bulan, pria yang akrab disapa ABC itu menyumbang sederet prestasi untuk sekolah tempatnya mengabdi.

RAKYATKU.COM - Banyak kenangan indah bersama Ahmad Budi Cahyono. Walau hanya digaji Rp400 ribu per bulan, pria yang akrab disapa ABC itu menyumbang sederet prestasi untuk sekolah tempatnya mengabdi.

Sebelum tewas dianiaya muridnya, HI (17), ABC dikenal sebagai guru kreatif di SMA Negeri 1 Torjun, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur. Tak sekadar guru mata pelajaran seni, dia juga ikut sebagai pelaku seni itu.

Dikutip dari Media Madura, Budi memang menggeluti dunia seni sejak kecil. Ia terlahir dari keluarga seni. Ayahnya, M Satuman Ashari juga merupakan guru honorer bidang seni rupa. Banyak prestasi yang ditoreh semasa kecilnya. Di tahun 2000 silam, saat masih duduk di bangku SDN Tanggumong 2, Budi pernah meraih juara 1 tingkat nasional saat mengikuti lomba.

"Saat itu merupakan torehan pertama Kabupaten Sampang meraih juara nasional,” ujar Abdullah Muslim, mantan kepala SDN Tanggumong 2 sekaligus guru mendiang Budi.

Abdullah mengakui sejak kecil muridnya itu dikenal cerdas, kreatif, sopan, dan berprestasi. Tak hanya itu, Budi Cahyono mengasah bakat seninya saat kuliah di Universitas Negeri Malang (UM). Semasa kuliah, Budi juga aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

 

Budi lulus dari kampus tersebut di tahun 2014 dan langsung mengajar di SMA Negeri 1 Torjun. Di sanalah Budi mengabdi sebagai guru honorer seni rupa selama tiga tahun. Sosok pria yang ahli bermain biola ini menikah dengan gadis pujaannya bernama Sianit Sinta. Perempuan berumur 22 tahun itu kini tengah hamil di usia kandungan lima bulan.

Sianit Sinta serta kedua orangtuanya, M Satuman Ashari dan Siti Khotijah, masih tidak percaya atas kejadian yang menimpa Budi Cahyono yang meninggal ditangan siswanya. “Sebisa mungkin dapat keadilan dan pelaku dihukum seberat-beratnya, harapan ke pemerintah mohon bantuan dan sedikit perhatiannya karena almarhum guru honor,” kata istri almarhum Budi, Sianit Sinta.

Sponsored by MGID

Selanjutnya, di tahun 2015 Budi Cahyono bergabung di Komunitas Perupa Sampang (KPS). Dia berinisiatif menghidupkan kembali KPS setelah sebelumnya organisasi ini sempat vakum. Masuknya Budi sebagai anggota KPS, membuat karyanya semakin produktif. Lukisan di dinding SMA Negeri 1 Torjun menjadi saksi kekreatifannya.

Meski gaji sebagai guru honorer yang diterima hanya Rp 400.000 setiap bulan, tidak menyurutkan Budi untuk terus berkarya. Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Torjun, Amat, menyampaikan, di mata guru lainnya almarhum Budi dikenal sosok yang humoris, kreatif, dan inovatif.

Hasil karya lukisan di dinding kelas, taman sekolah, vas bunga, tempat sampah, dan lainnya, membawa nama sekolah sebagai lembaga pendidikan terhijau di Kabupaten Sampang. “Semua ini hasil karya kreatif almarhum selama mengabdi menjadi guru seni di Torjun, hanya itu yang selalu kami kenang,” terang Amat.