Senin, 15 Januari 2018 13:57

Inilah Obat Mata Termahal di Dunia, Harganya Rp11 Miliar

Alief Sappewali
Konten Redaksi Rakyatku.Com
ILUSTRASI
ILUSTRASI

Orang bisa melakukan apa saja demi kesehatan mata. Obat mata pun kini terus berkembang. Terbaru, ada obat mata yang harganya mencapai Rp11 miliar.

RAKYATKU.COM - Orang bisa melakukan apa saja demi kesehatan mata. Obat mata pun kini terus berkembang. Terbaru, ada obat mata yang harganya mencapai Rp11 miliar.

Obat nama ini bernama Luxtuma. Diklaim satu-satunya obat terapi gen untuk mengatasi kebutaan keturunan. Obat ini dikabarkan sudah disetujui FDA.

Jangan heran jika harga obat ini sangat mencekik, yakni US$850 ribu atau sekitar Rp11 miliar. 

Obat yang diproduksi oleh Spark Therapeutics dan awalnya berusaha untuk menjual obat ini dengan harga US$1 juta atau Rp13 miliar. Belakangan, harganya diturunkan, namun tetap saja mahal. 

Sekalipun harganya turun, namun luxtuma ini masih jauh lebih mahal daripada semua obat lainnya di pasar global, termasuk dari dua perawatan terapi gen lain yang disetujui FDA tahun lalu. 

 

Bukan cuma harganya yang sangat mahal, namun obat terapi gen ini juga berukuran kecil. Luxtuma adalah obat satu kali suntikan yang menggunakan virus untuk "mengirimkan" gen pengganti ke jaringan tissue retina mata orang yang lahir dengan mutasi genetik spesifik dan menyebabkan kematian. 

Pengobatan ini membutuhkan biaya US$425 ribu sekali suntik untuk satu sisi mata saja. Dengan harga yang mahal ini, pengembang obat tersebut berpendapat bahwa luxtuma hanya ditujukan untuk sekali penggunaan. Ini membedakannya dari obat tradisional yang konsumsi selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

"Kami ingin menyeimbangkan nilai masalah jangkauan dengan harga yang bertanggung jawab yang akan menjamin akses untuk pasien," kata Jeffret Marrazzo, CEO Spark Therapeurics kepada The Star dikutip dari Oddity Central. 

Hanya saja, sekalipun berdalih bahwa harga tersebut pantas mengingat perbandingan jangka waktu dan kemungkinan biaya lainnya, namun tetap ada pertentangan soal ini. 

"Spark Therapeutics memberi harga luxtuma terlalu mahal. Sistem kali tidak bisa mengatasi harga yang tak adil seperti ini," kata David Mitchell, pendiri organisasi Patient for Affordable Drugs.