Jumat, 02 Juli 2021 10:32

Gelombang Panas Suhu Tertinggi Sepanjang Masa, Banyak Korban Jiwa Berjatuhan di AS

Nur Hidayat Said
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Paul Loikith, Direktur Laboratorium Ilmu Iklim Portland State University, mengatakan kepada kantor berita Associated Press, gelombang panas kali ini sangat mengkhawatirkan.

RAKYATKU.COM - Gelombang panas yang memecahkan rekor suhu tinggi sepanjang masa, yakni 46 derajat Celcius, di wilayah barat laut Amerika Serikat telah menelan banyak korban jiwa.

Pihak berwenang saat ini juga bersiap menghadapi cuaca yang lebih panas dan ancaman kebakaran hutan.

Sepanjang tahun ini, hingga awal Juli, negara bagian Oregon melaporkan 63 kematian terkait dengan gelombang panas.

Baca Juga : Tunjangan Pengangguran Tinggi, Pekerja di AS Enggan Bekerja Lagi

Salah satu kabupatennya, Multnomah, yang mencakup kota Portland, melaporkan jumlah korban tertinggi, yakni 45.

Penyelidikan awal para petugas medis menunjukkan para korban terkena hipertermia, sebuah kondisi di mana suhu tubuh melebihi suhu normal akibat suhu lingkungan yang tinggi.

 

Jumlah korban kemungkinan meningkat mengingat banyak rumah sakit di Oregon melaporkan lonjakan ratusan kunjungan pasien dalam beberapa hari terakhir terkait berbagai penyakit yang berhubungan dengan panas.

Baca Juga : Dokumen Setebal 900 Halaman Bocor, AS yang Danai Penelitian Virus Corona di Lab Wuhan

Data ini menunjukkan peningkatan signifikan. Sebagai perbandingan, sepanjang tahun 2017 hingga tahun 2019, Oregon hanya mencatat 12 kematian terkait hipertermia.

Sponsored by MGID

Paul Loikith, Direktur Laboratorium Ilmu Iklim Portland State University, mengatakan kepada kantor berita Associated Press, gelombang panas kali ini sangat mengkhawatirkan.

"Ini belum pernah kita alami dan di luar perkiraan sehingga tidak mengherankan bila ini memberi tekanan pada sistem alam dan manusia," jelasnya.

Baca Juga : Kisah Pemuda Surabaya Jadi Tentara di AS, padahal Dulu Tak Bisa Bahasa Inggris

Dokter Jennifer Vines, seorang pejabat kesehatan Kabupaten Multnomah, mengingatkan warga untuk bersikap waspada terhadap gelombang panas ini.

"Panas dapat berkontribusi pada begitu banyak jenis masalah kesehatan. Kita perlu mengevaluasi apakah kita siap menghadapi apa yang dapat terjadi sepanjang tahun ini," kata Jennifer Vines.

Dokter Corey Fish, kepala urusan medis Brave Care, sebuah fasilitas medis khusus anak, mengingatkan para orangtua untuk mengawasi anak-anak mereka yang bermain di luar rumah. "Anda harus berhati-hati mengawasi anak-anak kecil, terutama mereka yang sering berkeliaran ke luar rumah.”

Baca Juga : Kasus Positif Terus Melonjak, Warga yang Divaksin Kini Dapat Insentif Rp1,4 Juta

Situasi serupa dihadapi Kanada, salah satu negara tetangga terdekat AS. British Columbia, provinsi paling barat Kanada, melaporkan 486 kematian mendadak terkait serangan gelombang panas, selama lima hari pada akhir Juni lalu.

Memperhitungkan tingginya jumlah korban tewas di negara bagian yang dipimpinnya, dan adanya ancaman kebakaran hutan, Gubernur Kate Brown menyatakan Oregon dalam keadaan darurat.

Dinas Cuaca Nasional AS di Portland mengeluarkan peringatan merah untuk beberapa wilayah di bagian negara bagian itu. Brown mengatakan kondisi angin dapat menyebarkan api dengan cepat.

Baca Juga : Rekor Suhu Gelombang Panas, Desa di Kanada Hangus Rata dengan Tanah

Departemen Pemadam Kebakaran Portland melarang penggunaan petasan dan kembang api dalam peringatan Hari Kemerdekaan AS tanggal 4 Juli.

Sumber: AP, VOA

Sponsored by advertnative
 
#gelombang panas #Amerika Serikat