Senin, 17 Mei 2021 18:03

Kabar Baik, Terungkap Sudah Kelemahan Virus Corona, Pandemi Covid-19 Segera Berakhir?

Fathul Khair Akmal
Konten Redaksi Rakyatku.Com
covid-19 (660 News)
covid-19 (660 News)

Kelemahan virus corona atau Covid-19 ditemukan oleh para ilmuwan.

RAKYATKU.COM - Virus SARS-CoV-2 adalah virus yang menyebabkan pandemi Covid-19, dan membuat seisi dunia pusing tujuh keliling selama setahun lebih ini.

Situs Swissinfo dari Swiss National Television pada 15 Mei 2021 melaporkan, para peneliti di Federal Institute of Technology ETH Zurich telah menemukan kelemahan penting dari virus SARS-CoV-2.

Dilansir dari 24h.com.vn via intisari.grid.id, produksi sebuah protein virus kunci terganggu, maka replikasi virus dalam sel yang terinfeksi dapat dikurangi secara signifikan.

Baca Juga : Menkes Tanya Anggaran Covid-19, Menkeu Sri Mulyani Jawab: Jangan Khawatir, Masih Ada Rp131 Triliun

Penemuan ini, yang dijelaskan oleh para peneliti sebagai kelemahan virus SARS-CoV-2, dapat berkontribusi pada pengembangan obat antivirus, serta kasus virus corona terkait.

Menurut para peneliti, poin kuncinya adalah "peralihan bingkai".

 

Selama pembacaan langkah demi langkah dari cetak biru dari asam ribonukleat (RNA), ribosom (mesin penghasil protein sel itu sendiri) terkadang salah hitung dan melewatkan huruf.

Baca Juga : Hasil Penelitian Ungkap Covid-19 Sudah Ada di China Sejak Oktober 2019


Ini jarang terjadi pada sel sehat.

Karena urutannya dibaca dan disalin secara tidak benar sehingga menyebabkan protein disfungsional.

Namun, beberapa virus seperti virus corona atau HIV bergantung pada perubahan dalam kerangka bacaan untuk mengatur produksi proteinnya.

Baca Juga : Sulsel Tidak Masuk, Ini Daftar 29 Zona Merah Covid-19 di Indonesia

Dalam sebuah pernyataan pada 13 Mei 2021, tim tersebut mengatakan bahwa virus SARS-CoV-2 menyebabkan pergeseran bingkai dengan melipat RNA-nya dengan cara yang tidak biasa dan kompleks.

"Oleh karena itu, karena frameshift penting untuk virus."

"Tetapi ini hampir tidak pernah terjadi di tubuh kita.

Baca Juga : Mahasiswa KKN Unhas Siap Bantu Pemerintah Putus Penyebaran Covid-19 di Parepare

"Senyawa apa pun yang menghambat frameshift dengan menargetkan lipatan RNA ini mungkin berguna sebagai obat untuk melawan infeksi," kata para peneliti.

Masih kurangnya informasi yang tepat tentang interaksi RNA dengan ribosom sel inang yang terinfeksi selama frameshift.

Namun, para peneliti di ETH Zurich dan universitas Bern, Lausanne dan Cork (Irlandia) telah berhasil mengamati proses ini.

Baca Juga : Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa Kembali Positif Covid-19

Dengan menggunakan eksperimen biokimia yang canggih, para peneliti dapat menangkap ribosom di tempat transfer RNA virus SARS-CoV-2.

Para ilmuwan kemudian dapat memeriksa kompleks molekuler ini menggunakan mikroskop elektron bersuhu rendah.

Para peneliti juga melangkah lebih jauh dan mencoba secara khusus mempengaruhi proses dengan bahan kimia.

Baca Juga : Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa Kembali Positif Covid-19

Mereka menemukan dua senyawa kimia yang mengurangi replikasi virus sebanyak 1.000 hingga 10.000 kali, tanpa toksisitas pada sel yang diobati dengan senyawa kimia ini.

Menurut para peneliti, meskipun senyawa ini saat ini tidak cukup kuat untuk penggunaan terapeutik, penelitian menunjukkan bahwa menghambat pergantian bingkai ribosom memiliki efek yang besar pada replikasi virus.

Ini diyakini membuka jalan bagi pengembangan senyawa yang lebih baik yang pada akhirnya dapat digunakan dalam pengobatan semua virus corona.

Baca Juga : Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa Kembali Positif Covid-19

"Pekerjaan masa depan kami akan fokus pada pemahaman mekanisme pertahanan," kata Nenad Ban, profesor biologi molekuler di ETH Zurichm Institute dan rekan penulis studi.

"Sel memblokir peralihan bingkai virus."

"Karena ini dapat berguna untuk pertumbuhan senyawa kecil. dengan aktivitas serupa," tutupnya.

Baca Juga : Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa Kembali Positif Covid-19

sumber: intisari.grid.id

#Covid-19