Senin, 03 Mei 2021 19:07

Bukan Orang Sembarangan, Inilah Polisi Berpangkat Aiptu yang Awalnya Jadi Target Sate Beracun

Fathul Khair Akmal
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Tersangka NA, 25 tahun, saat digelandang ke Mapolres Bantul. (FOTO: LIMAPAGI)
Tersangka NA, 25 tahun, saat digelandang ke Mapolres Bantul. (FOTO: LIMAPAGI)

Terungkap, sate beracun yang dikirim NA awalnya ditujukan untuk Tomi. Tomi adalah seorang polisi yang bertugas di Polresta Kota Yogyakarta.

RAKYATKU.COM - Terungkap sudah siapa sebenarnya pengirim paket sate beracun di Yogyakarta. Perempuan berinisial NA (25) pelakunya. NA warga Majalengka, Jawa Barat.

Sate beracun ini, awalnya ditargetkan NA untuk seorang pria bernama Tommy, yang tinggal di Villa Bukit Asri, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.

Dari sejumlah informasi yang beredar, Tomi yang menjadi target sasaran sate beracun ini adalah seorang anggota Polri. Tommy disebut bertugas di Polresta Kota Yogyakarta.

Baca Juga : Bungkusannya Warna Kuning, Jadi Petunjuk Polisi Lacak Pengirim Sate Beracun di Yogyakarta

Tomi berstatus polisi berpangkat aiptu. Dia yang menjadi target sasaran pembunuhan paket sate beracun ini, dikenal ramah dan berprestasi.

Lalu siapa Aiptu Tomi?

 

Tomi adalah anggota Kepolisian di bagian Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polresta Yogyakarta.

Baca Juga : Ngaku Nikah Siri kepada Pak RT, Pengirim Sate Beracun Telepon Seseorang yang Mengaku Ibunya

Aiptu Tomi menjadi penyidik senior di Reskrim Polresta Yogyakarta.

Informasi itu dibenarkan oleh Kasubbag Humas Polresta Yogyakarta AKP Timbul Sasana Raharja kepada Tribunjogja.com , Minggu (2/5/2021).

Ia menjelaskan, T berpangkat Aiptu dan kini masih berstatus sebagai penyidik senior di Satreskrim Polresta Yogyakarta.

Baca Juga : Terungkap, Wanita Pengirim Sate Beracun Ternyata Sudah Nikah Siri dengan Tomy

"Betul, yang bersangkutan adalah penyidik senior di Reskrim Polresta Yogyakarta, pangkatnya Aiptu," jelasnya.

Timbul mengatakan ratusan kasus kriminal pernah ditangani.

Penelusuran Tribun Jogja, T pernah mendapatkan penghargaan dari Polda DIY pada 2017 silam sebagai penyidik terbaik.

Baca Juga : Terancam Hukuman Mati, Pengirim Sate Beracun Sakit Hati karena Targetnya Nikah dengan Wanita Lain

Timbul pun membenarkan adanya informasi tersebut dan menegaskan bahwa T memang penyidik senior dengan kinerja yang baik.

"Ya karena sudah senior di reskrim Polresta, artinya memang bisa bekerja," terang dia.

Namun demikian, Timbul belum memastikam sudah berapa lama T bertugas sebagai penyidik di Satreskrim Polresta Yogyakarta.

Baca Juga : Racuni 25 Murid, Guru TK Dihukum Mati

"Kalau itu belum tahu pasti, yang jelas dia sudah senior," tegasnya.

Menurut Timbul, selama mengabdi di jajaran Satreskrim Polresta Yogyakarta, T dikenal ramah dan baik kepada siapa pun.

Ia cukup terkejut lantaran ada seseorang yang mengirim paket sate beracun ke rumahnya, yang pada akhirnya justru salah sasaran dan menelan korban bocah berusia 10 tahun bernama Naba Faiz Prasetya, Warga Bangunharjo, Sewon, Bantul.

Baca Juga : Racuni 25 Murid, Guru TK Dihukum Mati

"Dia dikenal ramah, dan biasa-biasa saja dengan rekan-rekan di Polresta.

"Kalau untuk alasan mengapa dikirimi sate beracun ya itu kewenangan penyidik yang menangani," pungkasnya.


Kronologi kiriman paket sate beracun

Baca Juga : Racuni 25 Murid, Guru TK Dihukum Mati

Pengantar sate beracun, Bandiman mengungkapkan, saat itu dirinya tengah beristirahat di sekitar Masjid daerah Gayam, Yogyakarta, dia didatangi perempuan muda yang memintanya mengantarkan paket takjil.

Dari pengakuannya, perempuan itu berciri-ciri masih muda, berkulit putih, dengan tinggi sekitar 160 cm dan mengenakan baju berwarna krem.

"Dia mengatakan bahwa tidak punya aplikasi, dan meminta mengirimkan paket takjil ke seseorang bernama Tomi di daerah Kasihan, Bantul," ujarnya, pada Selasa (27/4/2021).

Baca Juga : Racuni 25 Murid, Guru TK Dihukum Mati

Bandiman pun menyanggupi permintaan tersebut.

Perempuan itu pun menanyakan berapa tarif untuk mengantarkan paket berisi sate dan snack tersebut.

"Saya minta Rp 25 ribu, lalu saya dikasih Rp 30 ribu. Saya juga minta nomor HP orang yang dituju.

Baca Juga : Racuni 25 Murid, Guru TK Dihukum Mati

"Dan minta nama si pengirim, dia mengatakan bahwa pengirim atas nama Hamid dari Pakualaman," ujarnya.

Bandiman pun mengantarkan paket tersebut, namun sesampai di alamat yang dituju, rumah orang yang bernama Tomi tersebut terlihat sepi.

Bandiman pun berusaha menghubungi Tomi.

Baca Juga : Racuni 25 Murid, Guru TK Dihukum Mati

"Setelah saya hubungi, benar yang mengangkat bernama Tomi dan alamatnya juga benar.

"Tapi dia mengatakan bahwa tidak merasa memiliki teman yang bernama Hamid di Pakualaman.

Lalu tomi mengatakan bahwa paket tersebut untuk saya saja untuk berbuka puasa," paparnya.

Baca Juga : Racuni 25 Murid, Guru TK Dihukum Mati

Bandiman pun pulang dengan membawa paket makanan tersebut.

Sesampainya di rumah, ia bertemu dengan anaknya, Naba (8) yang baru pulang dari masjid.

Sate itu lalu dimakan Naba, istri dan Bandiman.

Baca Juga : Racuni 25 Murid, Guru TK Dihukum Mati

Namun saat makan sate itu, tiba-tiba Naba mengeluh pahit dan panas.

Dia lalu lari ke kulkas untuk minum, tapi sampai dapur dia terjatuh. Sementara istrinya muntah-muntah.

Melihat anaknya tak sadarkan diri, Bandiman pun langsung melarikan anaknya ke RS Wirosaban.

Baca Juga : Racuni 25 Murid, Guru TK Dihukum Mati

Di perjalanan Naba sempat mengeluarkan buih dari mulutnya.

"Ditangani sekitar seperempat jam, mengatakan sudah tidak tertolong lagi. Kalau kata dokter itu positif kena racun,"katanya.

sumber: grid.id

#racun #Sianida