Senin, 15 Juni 2020 08:02

"Kuusap Mataku dengan Lailahaillallah," Kisah Korban Longsor Jeneponto yang Selamat

Alief Sappewali
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Baharuddin (kiri)
Baharuddin (kiri)

Baharuddin (50) bergidik saat mengingat detik-detik longsor di Desa Rumbia, Jeneponto. Dia satu di antara korban yang selamat.

RAKYATKU.COM,JENEPONTO -- Baharuddin (50) bergidik saat mengingat detik-detik longsor di Desa Rumbia, Jeneponto. Dia satu di antara korban yang selamat.

Sebelum longsor terjadi, dia bersama sembilan warga lainnya sedang bergotong royong. Mereka sedang mengikat rumah milik Canci. Tujuannya agar rumah itu tidak hanyut terbawa arus.

Maklum, rumah tersebut berlokasi di bantaran Sungai Kalendu. Saat itu, sungai sudah mulai meluap. Jika tidak diikat, dikhawatirkan rumah itu hanyut terbawa banjir. Apalagi curah hujan masih tinggi.

Tiba-tiba pohon besar di seberang jalan tumbang. Bergerak bersamaan dengan tanah. Suara gemuruh terdengar. Sepuluh orang yang sedang berada di sekitar rumah panik. Mereka berhamburan menyelamatkan diri.

Rumah Canci itu tertimbun tanah longsor hingga hancur. Tadinya berusaha diselamatkan dari banjir, ternyata dihancurkan oleh tanah longsor.

Baharuddin telat berlari. Dia ikut terseret longsoran.

"Gunung yang depan itu bergemuruh mengeluarkan lumpur dan menyeretku sejauh tujuh meter bersama Jaya," tuturnya, Sabtu (14/6/2020).

"Dan Made baru saya ketahui setelah siangnya, bahwa meninggalki," tambah Baharuddin.

Baharuddin selamat setelah tangannya berhasil meraba sesuatu hingga bersandar pada sepeda motor yang ikut terseret lumpur. 

"Saat saya digulung lumpur sejauh tujuh meter, sempat tertimbun lumpur, saya terus berzikir mengingat Allah subhanahu wa ta'ala. Tidak lama kemudian saya terbangun, tapi tidak melihatka. Saya mengusap mataku dengan ucapan laa ilaaha illallah sebanyak tiga kali," sebutnya.

Banjir dan longsor di Kecamatan Rumbia menimpa empat desa, yakni Desa Rumbia, Kassi, Pallatikang, dan Lebangmanai. Wilayah itu berada di dataran tinggi dan dikenal sebagai penghasil sayur mayur.

Kepala Desa Rumbia, Suprianto Lolo mengatakan, banjir dan longsor yang terjadi di Kecamatan Rumbia kali ini adalah yang terparah.

Seingatnya, sekitar 30 tahun lalu, juga pernah terjadi longsor. Tepatnya tahun 1987. Namun, kala itu tidak disertai banjir. 

Warga lain, Marus yang sudah berusia 70 tahun, menceritakan tiga gunung yang longsor. Ketiganya bernama Gunung Bontorumbang, Gunung Meong, dan Gunung Talloang. 

Penduduk setempat menyebut ketiga gunung tersebut dengan Bontotallua. 

"Gunung Meong, Bontorumbang, Talloang kembar tiga sehingga dinamai gunung Bontotallua," tutup Marus yang juga kepala kampung setempat.