Selasa, 20 November 2018 10:59

Penyebar Foto Syur Editan Grace Natalie Minta Maaf, PSI Bilang Begini

Ibnu Kasir Amahoru
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Grace Natalie. Ist
Grace Natalie. Ist

Salah satu penyebar foto syur editan Ketum PSI, Grace Natalie, Topan Pratama Siregar telah menemui langsung korbannya dan meminta maaf. 

RAKYATKU.COM - Salah satu penyebar foto syur editan Ketum PSI, Grace Natalie, Topan Pratama Siregar telah menemui langsung korbannya dan meminta maaf. 

Polri mengatakan meski pelaku sudah meminta maaf kepada korban, tidak serta merta dapat dihentikan. Polri tetap melakukan penyelidikan, bila ditemukan bukti yang cukup, maka kasus dapat dilanjutkan. 

"Grace Natalie-nya bagaimana. Kalau itu tindak pidana murni bahasanya Grace Natalie menerima," Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo.

"Tapi kalau polisi nggak begitu saja dihentikan, lihat konstruksi hukumnya kalau tidak terpenuhi atau tidak terpenuhi, penyidik ada alasan objektif dan subjektif untuk meneruskan kasus tersebut," sambung Dedi.

Sebelumnya, salah satu penyebar foto syur editan Ketum PSI Grace Natalie, Topan Pratama Siregar telah menemui langsung korbannya dan meminta maaf. PSI mengimbau seluruh penyebar foto editan Grace yang telah dipolisikan segera minta maaf.

"Terhadap terlapor lainnya, kami sangat mengapresiasi bila atas dasar kesadaran sendiri tanpa tekanan pihak mana pun segera meminta maaf. Bila tidak ya kami sudah serahkan kasus ini kepada pihak berwenang silakan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku dam kami siap ikuti mekanisme hukumnya," ungkap kuasa hukum PSI, Muannas Alaidid, dikutib Detikcom, Selasa (20/11/2018).

Apakah PSI akan melanjutkan laporan polisi usai Topan meminta maaf? Untuk diketahui, selain Topan, PSI juga mempolisikan pemilik akun FB Srikandi Rahayu Ningsih, Rudy Hadi Saputra, Ira Adriana, Naadirah Nasution, dan pemilik akun IG Achysaputra. 

"Soal adanya permintaan maaf dari salah satu terlapor, sepanjang delik aduan itu masih kewenangan kami Pasal 27 ayat 3 UU ITE, sah bila dicabut. Masalahnya laporan kami tidak hanya delik aduan tapi ada delik biasa, jadi tidak serta merta bisa dicabut karena keinginan korban (grace). Karena ada Pasal 28 ayat 2 ITE (ujaran kebencian) dan Pasal 4 UU Pornogarfi," sebut Muannas. 

"Nah delik biasa ini harus ada persetujuan dari Polri, tapi kami upayakan agar dipertimbangakan untuk bisa dicabut, namun demikian belum bisa dipastikan," tukasnya.

Loading...