Senin, 08 Oktober 2018 22:46

Ini Kisah Usman, Dua Kali Dihantam Tsunami, Diselamatkan Jeriken

Mays
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Usman memeluk ketiga anaknya.
Usman memeluk ketiga anaknya.

Pengalaman selalu menjadi guru yang berharga. Perkataan bijak ini setidaknya menjadi refleksi kisah Usman (32), salah seorang warga Kampung Baru, Desa Gunung Bale, Kecamatan Nanawa, Kabupaten Donggala

RAKYATKU.COM, PAREPARE -- Pengalaman selalu menjadi guru yang berharga. Perkataan bijak ini setidaknya menjadi refleksi kisah Usman (32), salah seorang warga Kampung Baru, Desa Gunung Bale, Kecamatan Nanawa, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

Masih terngiang dan menjadi trauma saat ayah 3 anak ini terseret gelombang tsunami, yang menjadi rentetan bencana di Sulawesi Tengah yang merenggut ribuan nyawa dan harta benda. 

Namun pengalaman saat dia merasakan gulungan tsunami kecil di Batu Licin, Kalimantan Selatan, dengan mengikatkan dirinya pada sebuah jeriken, membuatnya selamat dan bisa kembali berkumpul dengan keluarga kecilnya.

Usman sambil memeluk 3 anaknya, Nur Husna (7), Ibrahim (4) , Rizip (3), menceritakan saat kejadian
Jumat petang.

Saat itu, dirinya bersama temannya sesama nelayan, sedang memperbaiki Kapal. Awalnya, ada gempa kecil 3 kali. 

Namun karena gempa seperti itu sudah sering terjadi, Usman dan rekan-rekannya tidak memedulikan.

Nanti saat goncangan terakhir diikuti tsunami kecil dan besar, barulah dia berlari. 

Saat itu, Usman melihat tanah terbelah dan menghisap teman dan sepupunya di pantai.

Baru 3 langkah berlari, Usman langsung terbawa oleh tsunami yang akhirnya menariknya ke tengah lautan.

"Saya diputar-putar seperti dalam mesin cuci," ujar Usman.

Dia mengikuti saja ke mana arus membawanya. Sekitar setengah jam dia digulung air. Namun akhirnya gelombang mulai tenang, Usman melihat sebuah jeriken 30 liter mengambang.

"Di situlah saya berpegang dan mengapung, hingga akhirnya setelah 24 jam ditemukan oleh tim SAR, 500 meter dari bibir pantai," terangnya.

Saat terombang-ambing di lautan, Usman mengaku pasrah karena kehabisan tenaga. Dalam pikirannya, hanya ada istri dan tiga anaknya yang masih kecil-kecil.

"Saya hanya bisa berdoa dan berharap, bisa diberikan keselamatan agar bisa berkumpul dengan keluarga kembali. Saat itu juga, saya tidak tahu kondisi istri dan anak saya di daratan," jelasnya.

Sesampai di bibir pantai, Usman lalu berlari ke rumahnya yang berada di dataran tinggi. Namun yang ditemuinya hanyalah puing bangunan yang rata dengan tanah, akibat goncangan gempa.

"Saya sempat putus asa. Nanti setelah ada tetangga yang bilang, jika mereka semua selamat dan mengungsi ke gunung, baru saya bisa bernapas lega," cerita dia.

Meskipun selamat, Usman yang telah 20 tahun menjadi nelayan, mengaku masih trauma melihat laut.

"Kalau melihat laut saya merinding. Namun saya harus segera melawan trauma ini, karena anak-anak saya butuh makan, saya hidup untuk mereka," tutupnya.