Kamis, 26 Juli 2018 17:01

Awalnya Incar Anak Mantan Bos, Ketemu, Target Berubah ke Anak Ipar

Mays
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Sidang penculikan bayi dengan saksi mahkota, Yusfikar Majid di PN Makassar, Kamis, (26/7/2018).
Sidang penculikan bayi dengan saksi mahkota, Yusfikar Majid di PN Makassar, Kamis, (26/7/2018).

Dua terdakwa penculik bayi Raihanun Malika (1,5) saling menuduh sebagai otak penculikan di ruang sidang utama PN Makassar, Kamis (26/7/2018). Dua terdakwa itu yakni Andi Rezha alias Risal (28) dan Yus

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Dua terdakwa penculik bayi Raihanun Malika (1,5) saling menuduh sebagai otak penculikan di ruang sidang utama PN Makassar, Kamis (26/7/2018). Dua terdakwa itu yakni Andi Rezha alias Risal (28) dan Yusfikar Majid (34).

Saat Yusfikar menjadi saksi mahkota, ia menyebut Reza yang menjadi otak dari penculikan ini. Kesaksian ini menjadi berbeda dengan yang diberikan Rheza, saat ia bersaksi di depan ketua majelis hakim yang dipimpin oleh Rusdianto. 

"Kamu ini bagaimana. Masa keterangan kamu berbeda dengan Rezha. Rezha bilang kamu yang jadi otak penculikan ini," kata Rusdianto saat Yusfikar menyanggah keterangan yang menyebut ia sebagai otak penculikan. 

Yusfikar pun mengatakan, ide penculikan ini bermula ketika ia mendapatkan telepon dari Rheza untuk bertemu. Dari pertemuan itu, Rheza mengungkapkan ingin menculik anak mantan bosnya yang berada di Manado. Namun setelah pertemuan intens, Rheza berubah pikiran untuk menculik anak dari ipar Yusfikar. 

"Karena Rheza tahu saya sakit hati dengan ayah anak yang saya culik, makanya Rheza mengatakan untuk menculik anak ipar saya," kata Yusfikar. 

Pernyataan ini kemudian menjadi kontroversi. Hakim pun mendesak Yusfikar untuk mengakui, bahwa ia pernah menceritakan sakit hatinya kepada Rheza. Yusfikar lalu mengaku dan setelah kesepakatan itu, ia pun merekrut Ayu dan Anwar alias Abang. 

"Rencana dari penculikan ini kami mau minta tebusan uang Rp2 miliar hingga Rp3 miliar," imbuh Yusfikar. 

Yusfikar juga mengatakan, penculikan ini direncanakan dengan Rheza setelah melakukan survey lokasi yang berada di Jalan Raya Pendidikan, Makassar. Agar penculikan ini berhasil, Ayu yang satu-satunya terdakwa wanita masuk ke rumah korban agar tidak dicurigai oleh tetangga. 

"Tapi setelah aksi ini, saya kasihan dengan ibu dan nenek anak yang saya culik. Saya yang punya niat untuk simpan anak di kompleks. Saya tunggu sampai ada tukang ojek lewat lalu tanya ibu, setelah pastikan ada yang ambil saya tinggalkan," pungkas Yusfikar. 

Yusfikar sendiri masih memiliki kerabat dengan Raihanun Malika (1,5) balita yang diculiknya bersama ketiga rekannya pada 9 Januari 2018 lalu. Meski sudah ditetapkan terdakwa, saat ini ia masih menyandang status Aparatur Sipil Negara (ASN) di Barru. Dia masih tercatat sebagai kepala Subag Risalah dan Perundangan-undangan DPRD Barru.

Sekretaris DPRD Barru, Zakaria Rahimi, saat ditemui di ruang kerjanya di kantor DPRD Barru Jl Sultan Hasanuddin, Kecamatan Barru, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, Rabu (25/7/2018) membenarkan hal ini.

"Nama Yusfikar sampai hari ini masih tercatat sebagai ASN di sini (DPRD Barru)," kata Zakaria.

Yusfikar memang merupakan ASN yang menjabat sebagai kepala Subag Risalah dan Perundangan-undangan DPRD Barru. Utang kreditnya pun hingga kini masih terbayarkan melalui potongan gajinya.