Senin, 23 Juli 2018 14:41

FDA Setujui Obat Malaria Baru, Pertama Dalam 60 Tahun

Suriawati
Konten Redaksi Rakyatku.Com
SCIENCE PHOTO LIBRARY Via BBC
SCIENCE PHOTO LIBRARY Via BBC

Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat telah memberikan lampu hijau untuk obat malaria. Dinamai tafenoquine, ini adalah pil pertama yang mendapatkan persetujuan dalam 60 tahun.

RAKYATKU.COM - Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat telah memberikan lampu hijau untuk obat malaria. Dinamai tafenoquine, ini adalah pil pertama yang mendapatkan persetujuan dalam 60 tahun.

Tafenoquine bekerja dengan mengeluarkan parasit keluar dari tempat persembunyiannya di hati dan menghentikan pasien mengalami malaria berulang. Obat ini dapat diminum bersamaan dengan obat lain untuk mengobati infeksi segera.

Selama ini, menyingkirkan malaria telah menjadi tantangan khusus, karena firus ini bisa tetap aktif di hati selama bertahun-tahun, sebelum terbangun kembali beberapa kali.

Dan orang yang terinfeksi dapat bertindak sebagai reservoir tanpa disadari karena ketika parasit bangkit kembali di tubuh mereka, seekor nyamuk dapat membawa parasit itu ke orang lain.

Tapi dengan hadirnya obat baru ini, para ilmuwan berharap malaria bisa diatasi, dan mereka telah menggambarkan tafenoquine sebagai "pencapaian fenomenal."

Sebelumnya, sudah ada obat yang dapat digunakan untuk menyingkirkan malaria yang disebut primakuin. Tetapi tidak seperti dosis tunggal tafenoquine, primakuin sering harus diminum selama 14 hari.

Beberapa ahli khawatir bahwa banyak orang merasa lebih baik setelah beberapa hari dan berhenti minum pil itu, sehingga memungkinkan parasit untuk bangun di kemudian hari.

Meski demikian, FDA mengatakan bahwa ada efek samping penting yang harus diperhatikan. Misalnya orang dengan masalah enzim, yang disebut defisiensi G6PD, tidak boleh mengonsumsi obat ini karena dapat menyebabkan anemia berat.

Ada juga kekhawatiran bahwa pada dosis yang lebih tinggi itu bisa menjadi masalah bagi orang-orang dengan penyakit kejiwaan.